Rabu, 11 Mei 2022

Pengalaman Konsultasi Online dengan Psikolog (Part 2)

Selepas pengalaman yang kurang nyaman kala pertama kali konsultasi dengan psikolog, tidak lantas membuat saya kapok. Berkaca dari pengalaman beberapa teman dan influencer yang saya ikuti bahwa tidak mudah menemukan psikolog yang cocok, maka saya hanya merasa bahwa pencarian saya belum selesai. Seminggu selepas kepergian mamah, saya merasa saya butuh untuk  berkonsultasi dengan psikolog selain karena saya hidup sendiri selepas kepergian mamah, tidak ada sanak saudara yang dekat dan orang yang bisa saya jadikan pegangan, juga karena pikiran dan perasaan saya kala itu ingin segera menyusul mamah. Saya merasa tidak ada gunanya saya hidup tanpa mamah, saya kehilangan dunia saya, saya kehilangan pegangan saya, saya tidak tahu harus apa dan bagaimana. Saya sudah bersikap seperti robot, menjalani hari-hari saya tanpa pemikiran dan harapan apapun, hanya sebatas menjalani dan berharap kematian segera menjemput. Saya sadar ini salah, saya sadar saya butuh pertolongan, saya sadar saya tidak sanggup menghadapi semuanya sendirian. Teman dan sahabat sekalipun ada di saat tertentu, tetap memiliki kehidupan sendiri yang tidak bisa menjadikan saya sebagai fokus utamanya, padahal sedianya ketika mamah ada, sayalah fokus utama dalam hidupnya, begitupun sebaliknya. 


Berbekal tanya pada teman yang mengalami situasi serupa, saya mencoba untuk membuat janji konsultasi dengan psikolog di salah satu flatform media sosial yang bergerak di bidang mental health, cukup mendadak karena saya daftar di siang hari dan menjadwalkan hari itu juga untuk berkonsultasi. Alhamdulillah qadarullah permintaan saya disetujui dan sore itu juga saya berkonsultasi dengan beliau melalui zoom. Konsultasi pertama saya langsung merasa nyaman, beliau menanyakan apa yang membuat saya merasa butuh bantuan psikolog, saya sampaikan keadaan saya dan pikiran-pikiran yang membebani saya. Seorang teman yang psikolog pernah mengatakan bahwa untuk mencapai hasil maksimal kita harus jujur dengan kondisi kita dan itu yang saya lakukan. 


Pertemuan kedua 13 November 2021, saya meminta konsultasi karena saya merasa limbung dan nelangsa banget, perasaan tidak ada gunanya saya hidup menghampiri lagi walaupun keinginan untuk mati tidak lagi sebesar sebelumnya. Pada pertemuan ini, sepertinya saya memasuki mode katarsis (maaf jika salah) dimana saya secara sadar menekan dan memeluk luka saya, “meremasnya” lalu secara sadar juga saya merasa sakit tapi setelahnya saya merasa lega. Dengan beberapa metode dan pertanyaan yang tepat saya dibimbing untuk berhadapan langsung dengan luka saya, luka yang saya tahu tidak akan pernah sembuh tetapi di titik ini saya menyadari bahwa saya akan berdampingan selamanya dengan perasaan ini. Selepas konsultasi selesai saya merasa lelah luar biasa dan tidur cukup nyenyak dan merasa lebih baik keesokan harinya. Pertemuan ini membuat saya menyadari beberapa hal, yang pertama beliau adalah pendengar yang baik, ketika saya berbicara, beliau hanya mendengarkan tanpa sekalipun mengintrupsi, jika kita berbicara bersamaan, beliau pasti mengalah dan mempersilakan saya menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan.


Pertemuan ketiga, seminggu kemudian. Saat itu saya masih berada dalam keadaan kacau, berusaha untuk waras, tegar dan baik-baik saja walau nyatanya tidak. Alhamduliiah aktivitas sehari-hari sudah normal tetapi perasaan masih naik turun. Salah satu hal yang membuat saya sulit bangkit adalah saya melewati hal ini sendirian, sedangkan saya merasa tidak sanggup sendiri, hal tersebut saya kemukakan juga pada beliau. Yang membuat saya semakin nyaman dengan beliau, selain pendengar yang baik, beliau tidak pernah menyuruh dan mendikte saya, beliau membuat saya berpikir dan bangkit dengan dan oleh saya sendiri. Di pertemuan ini saya sangat menyadari bahwa beliau mengarahkan saya untuk semakin mengenal diri saya dan mencari semua jawaban dan kekuatan melalui diri saya, bukan dari pihak lain. Karena sekalipun membersamai, belum tentu mereka mendampingi dan membantu. Hingga pada akhirnya, semua solusi dan kekuatan ada di dalam diri kita, sesuatu yang kerapkali saya atau malah kita semua abaikan. 


Pertemuan-pertemuan selanjutnya masih saya lakukan dengan intensitas yang semakin jarang, saya tidak selalu baik-baik saja. Seringkali saya tiba-tiba down tapi beberapa metode terapi yang beliau ajarkan cukup membantu saya melewati hari-hari buruk. Ada saat tertentu saya menghubungi beliau ketika baik-baik saja, untuk evaluasi dan membenahi hal-hal yang semerawut dalam diri saya dan rasanya menyenangkan dan melegakan.


Dari pengalaman tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa semua yang sudah diatur olehNya sedemikian apik, hingga saya bertemu dengan beliau di saat terburuk di hidup saya dan membantu saya melewati fase tersebut. Bayangkan jika saya bertemu psikolog yang judgemental atau tidak cocok dengan saya ketika saya terpuruk, rasanya semakin tidak baik hati dan pikiran saya. 


Sependek pengalaman saya dengan psikolog, saya merasa cocok psikolog dengan tipe pendengar yang baik, memiliki dasar dan boundaries yang sama, dalam hal ini islam sebagai fondasi diri. Selain itu, berbagi dengan professional yang tepat membuat saya lebih memahami dan menyayangi diri saya bahkan di saat yang sulit ini. Sekalipun masih ada waktu saya tidak baik-baik saja, tapi saya lebih percaya bahwa semua akan normal pada waktunya. Di tahap ini juga saya menyadari bahwa sedih dan terpuruk itu adalah bagian dari kehidupan, bahwa proses grieving yang lama adalah normal karena setiap orang memiliki cara dan waktu sendiri untuk berduka dan pulih. Sekalipun memiliki pengalaman yang sama tapi luka dan cara orang menghadapi situasi tersebut tentu akan berbeda, karenanya entah orang menganggap saya sulit untuk move-on, saya sadar salah satu alasan kenapa saya sulit untuk move on adalah bonding saya dan mamah sangat kuat, terlebih hidup berdua saja dan saling mengandalkan satu sama lain membuat saya kehilangan banyak hal dalam satu waktu. Saya tidak berharap orang mengerti dan saya tidak peduli pendapat orang karena saya tahu dan sadar bahwa ini bagian dari proses. Tentunya dengan usaha dan keinginan untuk tidak selamanya tenggelam dalam kesedihan. 


Saya juga disadarkan bahwa sekecil apapun pencapaian kita harus belajar mengapresiasi diri. Saya teringat saya berkata bahwa saya bangga pada diri saya sendiri karena bisa nggak nangis selama tiga minggu, biasanya selalu ada waktu dimana saya menangis setiap minggunya. Sesuatu yang bisa jadi sepal bagi orang lain bahkan cenderung lebay, tapi tidak buat saya. Berada di titik normal dengan rentang waktu semakin panjang adalah pencapaian yang luar biasa karena itu membuktikan bahwa saya berproses. Tidak hanya terpuruk dalam kesedihan.


Metode dan terapi yang diajarkan dan dipakai selama konsultasi berlangsung tidak saya sertakan disini karena penanganan setiap orang tentu saja berbeda dan setiap psikolog akan menyesuaikan metode dan jenis terapi yang digunakan. Sedikit yang bisa saya share terlepas dari pengalaman saya bersama psikolog adalah meditasi, hal tersebut membantu sekali meredakan ketegangan dalam banyak waktu (sekalipun jika sudah tidak membantu, saya lantas meminta konsultasi), menyadari dan menikmati setiap nafas yang dikeluarkan, sepele tapi berdampak besar bagi saya pribadi. Luangkan saja waktu tiga sampai lima menit untuk fokus pada pernafasan anda. Semoga mengubah ketegangan dan kecemasan menjadi lebih tenang. Boleh banget dicoba ya!


Pengalaman “menyenangkan” bersama psikolog ini semoga bisa menjadi gambaran bahwa memang tidak mudah menemukan psikolog yang tepat. Tetapi ketika sudah menemukan dan dengan pertanyaan dan metode yang tepat membuat saya semakin mengenali diri. Jadi, walau belum tentu langsung bertemu psikolog yang tepat, tapi jangan ragu untuk tetap mencari dan berproses karena sejatinya usaha kita untuk pulih adalah perjalanan panjang yang jika bertemu orang yang tepat akan memudahkan segalanya.  Dan stigma hanya orang sakit jiwa yang butuh psikolog rasa-rasanya sudah tidak relevan lagi dengan tingkat awareness yang semakin tinggi terkait mental health.

Minggu, 17 April 2022

Pengalaman Konsultasi Online dengan Psikolog (Part 1)

Jika sebelumnya saya lebih banyak bercerita entang perjalanan saya selepas kepergian mamah, maka di tulisan kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya berkonsultasi dengan psikolog di masa silam. Yang pada tulisan selanjutnya akan saya ceritakan tentang peran psikolog yang membantu saya untuk pulih selepas kepergian mamah. Cerita ini masih flashback, menceritakan pengalaman lama yang cukup membekas untuk saya. 

Mental health belakangan menjadi isu yang marak dibahas dimana-mana. Sisi positifnya orang menjadi aware dengan berbagai permasalahan terkait mental health, sisi negatifnya orang sering salah kaprah mendiagnosis diri sendiri dan mental health kini kerap dijadikan alasan atau pembenaran bagi kebiasaan buruk seseorang. Seperti yang baru-baru ini heboh tentang curhatan mahasiswa yang mengaku mental healthnya terganggu dengan banyaknya tugas perkuliahan yang dia terima, padahal sejatinya kuliah dan dan seluruh aspeknya termasuk tugas yang berjibun merupakan bagian dari proses dan setiap mahasiswa mengalaminya. Lelah, burn out dan merasa terbebani jelas banyak yang mengalaminya, tapi tidak otomatis mental healthnya terganggu kan? Tapi tulisan ini bukan akan membahas hal tersebut, tulisan kali ini membahas tentang pengalaman saya berkonsultasi online dengan psikolog.

Sependek pengalaman saya, saya terhitung berkonsultasi dengan tiga psikolog. Dua psikolog pertama, saya berkonsultasi melalui aplikasi chat dengan dokter. Untuk yang ketiga dan masih berkonsultasi sampai sekarang saya mendapatkan kontaknya melalui salah satu komunitas yang bergerak di bidang kesehatan mental. 

Konsultasi pertama saya dengan psikolog, terjadi di tahun 2018, saat itu saya merasa penat dengan banyaknya masalah yang ada di hidup saya, motivasi mulai menurun dan merasa lelah dengan keseharian saya. Dari teman yang memiliki latar belakang psikologi, saya merasa sudah saatnya saya menemui psikolog. Mengingat di tempat saya tinggal tidak ada akses ke psikolog, saya memutuskan mencoba berkonsultasi online menggunakan salah satu aplikasi caht dengan dokter, kebetulan sebagai pengguna baru saya menikmati dua kali konsultasi gratis melalui aplikasi tersebut. Pada sesi yang berlangsung selama 2 x 30 menit tersebut saya ditanya tentang hal yang mengganggu saya setelah menggambarkan secara ringkas situasi saya, mulailah psikolog tersebut menanggapi, saat pertama membaca chatnya saya langsung merasa tidak nyaman, alih-alih menanyakan lebih jelas kondisi saya jika penjelasan saya kurang jelas, psikolog tersebut malah langsung menghakimi dan menyalahkan saya di beberapa aspek, sehingga saya yang sedang tidak baik-baik saja merasa semakin terpojokkan dengan kata-katanya. Saya sempat menyampaikan bahwa saya tidak nyaman dengan kata-katanya lalu beliau malah menyuruh saya introspeksi diri, lhaa? Helo, yang lagi cerita ini kondisinya lagi nggak baik dan sensitive, kenapa malah dihakimi dan disuruh mikir? Karena waktu juga habis, saya tidak berniat melanjutkan sesi konsultasi tersebut, malah menandai psikolog tersebut karena caranya menghadapi saya yang saya rasa tidak menyenangkan. 

Pengalaman tersebut tidak membuat saya kapok, karena beberapa teman mengatakan bahwa bertemu dengan psikolog yang tepat itu perlu perjuangan, tidak bisa langsung menemukan yang sesuai dengan value yang kita pegang dan bisa menerima kondisi dan pemikiran kita. Masih menggunakan aplikasi serupa di tahun berkutnya, saya mencoba berkonsultasi satu sesi. Saat ini saya merasakan kelelahan yang amat sangat dan pikiran negative yang terus mengganggu. Psikolog yang kedua ini tidak judgemental seperti yang pertama, saya diberi beberapa tips dan arahan agar pikiran saya lebih kalem dan tidak terlalu sering overthinking. Saya cukup merasa terbantu dengan psikolog kedua ini, walaupun sarannya banyak yang sudah saya lakukan tapi setidaknya saya tidak merasa dihakimi dan psikolog ini fokus pada solusi untuk saya. 


Salah satu kelemahan berkonsultasi secara online melalui chat adalah kita seakan diburu waktu dan ada ketrerbatasan komunikasi sehingga bukan tidak mungkin apa yang hendak kita sampaikan tidak sampai pada oaring yang kita hubungi. Dan karena ada limit waktu per sesi, ada perasaaan diburu-buru dalam menyampaikan poin yang ingin kita sampaikan. Selanjutnya memang harus ada kesamaan value antara psikolog dengan kita selaku pasien. Pengalaman tidak mengenakan dengan psikolog yang judgemental sangat membekas hingga kini, sehingga walaupun tidak kapok tapi saya menjadi lebih hati-hati dan mencoba memetakan dulu seperti apa psikolog yang saya hadapi. Sanagt tidak enak rasanya ketika kita membutuhkan bantuan tetapi orang yang kita minta bantuan malah menyalahkan keadaan kita. Ini tidak menggneralisir psikolog yang ada, karena pada pengalaman selanjutnya saya menemukan psikolog yang tepat dan nyaman. Pada tulisan selanjutnya saya akan menceritakan pengalaman saya menemukan psikolog yang cocok bahkan masih terus berkonsultasi hingga saat ini sejak saya kepergian mamah tercibta saya yang sangat membantu saya. Nantikan di tulisan selanjutnya ya.

Kamis, 24 Maret 2022

Saat ini ...

Saya beranjak pulih, iya. Tapi berhenti merindukan Mamah? Jelas tidak mungkin. Selasa 22 Maret 2022, saya menangis lagi setelah 29 hari saya normal. Pekerjaan yang menumpuk dan tidak ada teman bicara menjadi pemicu saya mengalami hal ini. Perasaan tidak mengenakan ini tidak muncul tiba-tiba, sejak Sabtu saya merasa kesepian, ketika seharin itu saya tidak bertemu dan berbicara dengan satu manusiapun. Sejak bulan lalu, Sabtu menjadi waktu saya untuk menikmati aktivitas leha-leha. Sehingga saya membebaskan diri dari aktivitas pekerjaan dan domestik hingga siang hari. Hal ini cukup membantu saya memulihkan mood dan kondisi saya. 
Saya menyadari pula sejak kepergian mamah, masa menjelang menstruasi membuat mood saya memburuk dengan mudah dan intensitas kesedihan meningkat drastis. Ditambah kenyataan bahwa bulan ini pekerjaan sedang menumpuk. Jika dalam situasi normal saya melakukan banyak upaya agar saya merasa lebih baik. Maka saat ini, dengan kesadaran akan situasi saya, baik pengaruh eksternal dan internal saya memutuskan untuk menerima saja hal ini sebagai penyerta siklus bulanan saya. Tidak mengenakkan memang merasakannya, tapi alih-alih melawan perasaan yang memang konsisten dalam beberapa bulan terakhir, sebaiknya saya mengubah sikap saya menghadapinya. Saya sedih, iya. Nelangsa, banget. Bingung karena nggak ada teman bicara, jelas. Tolong, jangan ceramahi saya mencoba mencari teman bicara, karena sedianya semua orang memiliki kesibukan dan prioritas masing-masing yang nyatanya bukan aku. Terlebih teman-teman yang sudah berumah tangga. 


Saat menulis ini, saya tidak sedang baik-baik saja. Tetapi saya dalam kondisi normal, hanya kelelahan dan sedih. Itupun tidak meratap. Saya hanya membiarkan diri saya menangis dan merindukan mamah saya lebih dari biasanya. Saya bilang saya dalam kondisi normal karena saya tidak dalam keadaan memikirkan hal buruk yang mengarah pada menyakiti diri sendiri. Jika melihat situasi bulan-bulan sebelumnya. Saya akan berangsur normal paling lambat dalam 5 hari, insya Alloh.

Saya yang hidup sendirian sejak kepergian mamah, belajar untuk lebih banyak memahami diri dan kebutuhan pribadi, terutama terkait mental. Karena orang lain tidak akan sepeduli itu pada saya, sekali lagi, setiap orang punya prioritasnya masing-masing. Bukan tidak peduli, hanya banyak hal yang menjadi batas kepedulian seseorang.


Sekali lagi saya belajar untuk lebih memahami diri, untuk bertoleransi pada beberapa hal yang memang tidak lagi sama di hidup saya. Izinkan saya untuk mengatakan saya bangga pada diri saya sendiri sudah sampai di titik ini. Karena ketika mamah pergi saya merasa saya akan terkurung dalam perasaan sedih selamanya. Tapi nyatanya tidak. Saya terus bergerak, menjadi produktif dalam beberapa hal, termasuk dalam menulis blog, karena ini adalah media healing saya, media saya untuk menyampaikan progress yang nyata di kehidupan saya. Dan untuk pengingat kelak bahwa saya tidak diam saja menghadapi kehilangan ini. Bahwa saya melakukan banyak hal untuk membuat diri saya pulih. Juga sebagai sebuah catatan kisah untuk dibaca lagi kelak atas sebuah kejadian yang mengubah diri, hidup dan pandangan saya dalam banyak hal. 


Mah, neng kangeeeeeeeeeeeeen banget sama mamah. Doanya dari semua yang membaca semoga amal ibadah mamah saya diterima disisiNya, dilapangkan kuburnya dan dimudahkan hisabnya kelak, aamiin aamiin aamiin ya robbal alamin. Al fatihah ...

Sabtu, 05 Maret 2022

Mah, You Are Strong Woman!

 Mah, Kangeeeeeeeeeeeen. Banget!

Saya sudah menulis beberapa minggu lalu, bahwa aku akan mengatakan betapa hebatnya mamah. Saya punya mimpi, dunia harus tahu bagaimana baik dan kuatnya mamah. Dunia harus tahu, mamah sudah mendidikku dengan sangat baik sehingga mereka akan turut bangga padamu, Mah. 

Saya selalu merasa, terlebih di tahun-tahun terakhir hidupnya, mamah hanya hidup untuk aku. Segala perhatian, kasih sayang, pikiran dan waktunya dihabiskan untukku dan bersamaku. Mamah tidak banyak bersinggungan dengan orang, karena enggan ditanya seputar kehidupan pribadinya. Mamah menutup rapat privacynya dari dunia luar kecuali padaku. Mamah mengurus dan memanjakanku sepanjang hidupnya. Sepertinya sebagian orang mengenalku dengan label "anak mama", yang hingga usia kepala tiga masih suka diantar mamah kesana-sini, yang masih disiapkan ini itu, yang masih suka di telepon jika pulang terlambat, yang walaupun jarak rumah dan tempat kerja dekat selalu telepon tiap waktu, entah untuk sekadar bercerita, menanyakan kabar kucing, bertanya mau dibelikan apa, atau hanya sekadar minta dijemput. semesra itu saya dan mamah. Bonding kami terlalu kuat, sampai rasanya dunia runtuh ketika beliau berpulang. Dulu ada rasa risih dengan perlakuan mamah, tapi setelah mamah berpulang, saya menyadari bahwa saya menikmati moment-moment itu.

Ah iya, saya mau bicara hebatnya mamah kan?

Saya selalu merasa saya tidak akan pernah bisa sekuat mamah. Merantau ikut suami dan membesarkan anak dengan seseorang yang tidak bisa diandalkan. Menutup rapat kekurangan pasangan dari keluarga dan berjuang mati-matian agar kebutuhan hidup terpenuhi. Belajar potong rambut, merias pengantin hingga membuat kue dan bol dari tidak bisa sampai mahir. Belajar menjahit dari tidak bisa hingga mukena dan seprai buatannya masih bisa kupakai hingga sekarang. Mamah adalah pembelajar otodidak yang ulet dan saya harusnya bisa lebih dari beliau. Kegigihan mamah dalam belajar sesuatu yang baru di usia berapapun, adalah semangat yang perlu ditiru semua orang, iya kan? 

Banyak masa terburuk dalam hidupnya yang saya saksikan sejak kecil. Disalahkan ipar dan tidak dibela sampai menangis, keguguran 3x dan melahirkan 2x tapi bayi meninggal setelah lahir. Ya Alloh, betapa kuat mamah saya. Jika orang hanya mengalami satu kehilangan, mamah saya sampai 5x. Dan beliau tetap tangguh merawat saya dan menjalankan perannya tanpa kurang apapun. Duh, mah ... Betapa istimewanya engkau dalam menghadapi hal-hal sulit dihidupmu. Terlebih kehilangan anak yang engkau kandung. Mah... Terimakasih telah menjadi kuat.  Dengan pasangan yang tidak kooperatif, saya tidak tahu bagaimana mamah berjuang untuk dirinya. Karena saya masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa mamah kehilangan dan butuh teman atau pendamping. Ah, maafkan Neng mah, tidak menjadi penopangmu saat engkau merasakan sedih yang dalam. Kehilangan orang tua, Kakek di tahun 2008 dan nenek 6 tahun kemudian, dengan perasaan berdosa karena jarang mengunjungi dan belum sempat membahagiakan. Saya sudah cukup besar ketika ini terjadi, tapi tidak cukup mengerti dan paham untuk mendampingi. belakangan, sebelum berpulang mamah kerap mengatakan mamah lelah. Mamah kerap menangis mengatakan rindu pada orang tuanya dan kami berpelukan, menangis bersama. Karena aku cukup lama menjadi satu-satunya cucu Engki dan Ibu (aku memanggil nenek dengan sebutan Ibu) yang sangat disayang. Aku cukup ingat bagaimana pintar dan cerewetnya Ibuku dan betapa humorisnya Engkiku. Hingga sakit, mengambil keceriaan mereka. Aku pun merindukan mereka dengan sangat. 

Aku selalu kagum dengan cara mamah menyimpan kisah pilunya sendiri. Di satu sisi (aku menyadari belakangan) ini berakibat buruk pada mental health nya tapi di sisi lain, mama sanggup menampakkan image yang tegar dan baik-baik saja di pandangan umum. Aku selalu kagum dengan cara berpikir mamah dalam menghadapi masalah yang bisa solutif tanpa mengorbankan orang lain. Aku nggak bisa kayak gitu. Aku selalu kagum pada kesabaran mamah  dalam menghadapi segala hal di hidupnya dan dalam menaghadapiku yang bebal ini. Terimakasih untuk pembelajaran hidupnya, Mah.

Semoga kelak, dunia tahu betapa kuatnya mamah dan betapa mamah telah mendidikku dengan sangat sangat sangat  baik, hingga kelak berguna bagi banyak orang. Semoga tak hanya semoga ya mah, bismillahirahmanirrahim. Semoga Mamah, Ibu dan Engki tenang disana dan semoag kelak ada rezeki untuk menghajikan kalian dan berbuat banyak hal atas nama kalian. Mohon bantuan doa dari semuanya ya.

AL fatihah untuk Mamah, Ibu dan Kakek saya.

Terimakasih.


Note : setiap kali menulis di blog ini, selalu berderai air mata. entah karena rindu, entah karena teringat betapa istimewanya mamah dan betapa beruntungnya aku mendapatkan ibu seperti beliau. Karenanya saya hanya sanggup menulis seminggu sekali. Untuk menyimpan memori tentang mamah dan mengukir perjalanan saya selepas kepergian mamah.

Senin, 28 Februari 2022

Menjalankan Wasiat Mamah

 Beberapa minggu belakangan, saya mengabarkan bahwa saya dalam kondisi stabil dan semakin bisa beradaptasi dengan keadaan. Kamis kemarin saya down lagi, ada sesak dan rindu yang menyiksa. Saya menangis hingga dua jam. setealh 23 hari saya lalui dengan senyuman, tanpa tangisan dan perasaan lainnya, tanggal 24 kerinduan itu pecah dan terasa menyiksa. Ya Alloh, tempatkan Mamaku di syurgaMu ya Alloh, aamiin ya robbal alamin. Saya rasa penyebab lainnya saya merasakan hal tersebut sepertinya pengaruh hormon, jadwal bulanan saya datang dan membuat emosi saya kandas seketika, setelahnya Alhamdulillah aku merasa lebih baik. 

Sejak awal minggu saya merasa bimbang, karena saya harus memutuskan untuk pergi ke Sumedang atau tidak. Jadi, ketika mamah masih ada, mamah sempat bilang " Neng, bulan Februari kita ke Sumedang yuk! Nenek Tati (Adik dari alm. kakek), tantenya Mamah) mau nikahin cucunya. Kita disuruh kesana" aku bilang "Hayuk mah, asal mamah sehat dulu!" kondisi mamah sudah sakit. Qadarulloh, mamah sekarang sehat banget, nggak ngerasain sakit lagi. Bulan lalu, nenek pun berulang kali mengatakan aku harus hadir ke pernikahan cucunya dan saya sanggupi. Tapi karena kasus omicron meningkat dan sedang banyak banget yang sakit, saya merasa ragu apakah saya akan berangkat atau tidak. Kecenderungan untuk tidak berangkat, ada. Bahkan beberapa kali terpikir untuk tidak berangkat. Saya terus memohon petunjuk pada Sang Maha Kuasa, agar keputusan yang saya ambil tidak salah. Saya takut malah membawa penyakit pada orang sekitar sepulang dari sana. 

Entah bagaimana, di hari kamis. tante yang saya telepon mengatakan bahwa dia tidak akan hadir karena tante yang satunya tengah sakit, makin ragulah saya untuk datang. Tapi keesokan harinya, beliau mengabarkan bahwa beliau akan berangkat. Dilema menjadi. saya terus meminta petunjuk pada Alloh SWT.  Mulanya saya berencana untuk berangkat hari Jumat siang, tapi karena satu dan lain hal, saya tidak jadi berangkat. Tetapi entah bagaimana, malamnya saya merasa yakin untuk berangkat. semua keraguan dan ketakutan itu menghilang entah kemana. Akhrnya Sabtu pagi saya memutuskan untuk berangkat ditemani seorang murid. sebenarnya saya tidak masalh pergi sendiri, tapi mengingat ini kepergian jauh pertama saya tanpa mamah, saya merasa butuh teman agar tidak melulu nangis mengingat mamah. 

Akhirnya berangkatlah saya pukul 09.14 WIB dan tiba di tempat pukul 16.30 karena harus berganti kendaraan dan macet juga. Alhamdulillah, mungkin memang ini petunjuk dari Alloh saya harus kesana, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang yang mengenal mamah, keluarga mamah dari pihak kakek, memperpanjang silaturahim. Alhamdulillah. Setidaknya aku bisa membuat mereka tidak melupakan mamah dan menjadi kenal sama aku, alhamdulillah. semoga silaturahim ini tetap terjaga dan teu pareumeun obor istilah sundanya mah. 

Aku masih mengingat sebagian besar dari mereka, ada yang kutemui terakhir kali ketika Sd dan SMP, iya aku masih ingat. mereka bahkan terheran-heran dan berkata "Oh, pernah ketemu ya? atuh udah lama banget ya". Yaaaaaaaaaaaaaa... dulu aku masih imut-imut dan sekarang semakin imut, hehe. Alhamdulillah Alloh memberi ingatan yang bagus sehingga saya bisa menyapa mereka tanpa salah menyebutkan nama. 

Ada ketenangan tersendiri karena memutuskan berangkat dan menjalankan wasiat mamah. Terima kasih ya Alloh untuk keyakinan yang diberikan. Mah, neng udah ketemu saudara-saudara mamah ya! Bismillahirahmanirrahim semoga silaturahim ini tidak terputus ya. semoga tetap bisa memanjangkan kebaikan mamah melalui bersilaturahim dengan saudara jauh. Bismillahirahmanirahim.

Senin, 21 Februari 2022

Catatan Kerinduan

Empat bulan telah berlalu, rasanya seperti sudah lamaaaaaaaa sekali, aku merindukan dirinya setiap waktu. Seperti yang kerap kutuangkan dalam blog ini. Merindukannya kadang sesakit itu, hingga seluruh tubuh terasa ngilu dalam arti sebenarnya. Aku berjuang untuk sampai di titik ini, stabil dalam tiga minggu belakangan. Hal-hal yang kuupayakan dan pertolongan Alloh tentu saja tak henti aku syukuri. Baik berupa teman dan murid yang selalu ada atau bahkan rasa lapar yang menggila saat aku kesulitan untuk bangun tapi perut oleh Alloh dibuat meronta-ronta sehingga aku terpaksa bangun atau makan sambil menangis. Iya, rasa lapar adalah salah satu hal yang saya syukuri sejak kepergian mamah. Seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, sejak kepergian mamah, aku yang cenderung susah makan malah lebih teratur makan sejak kepergian mamah, karena Alloh dengan baiknya menjaga rasa lapar aku dan di waktu-waktu tertentu menjadi alas an saya untuk memaksakan diri bergerak. Terimakasih Ya Alloh.


Tujuh tahun terakhir, aku benar-benar menghabiskan banyak waktu berdua saja dengan mamah. Aku sudah sampai di titik pemikiran bahwa aku harus lebih menurut apa kata mamah dan ikutin apa maunya mamah. Walaupun sejatinya sebagai anak aku nggak pernah berhenti merepotkan mamah, terlebih waktu sakit lama tahun lalu. Belum puas rasanya karena aku belum banyak berbuat untuk mamah selain selalu ada disampingnya. Aku kangen, mah!


Kamu tahu apa yang kurindukan dari mamah selain sosoknya? Candaan yang hanya kami yang mengerti. Selalu bahagia dan spesial rasanya ketika ada seseorang yang memiliki bahasa tersendiri denagn kita. Candaan dan obrolan yang hanya kita berdua yang paham dan tertawa bersama tanpa orang lain paham kenapa kami tertawa.

Aku kangen diantar-jemput sama mamah, siapa yang sampai tahun 2021 masih diantar jemput pakai sepeda sama mamahnya? Aku. Sejak tidak memiliki sepeda motor, mamah berganti menjemputku memakai sepeda, padahal jarak rumah ke sekolah sangat dekat. Aku sempat mengutarakan untuk tidak usah dijemput, tapi dalam perbincangan itu aku menangkap bahwa mamah senang melakukannya dan merasa berguna untukku. Karena sudah sejak lama mamah tidak bekerja dan aku menanggung semuanya. Maka mamah yang memang Acts of servicenya jawara banget, suka kalau aku minta dijemput. Bahkan murid-muridku tahu, aku suka dijemput mamah pakai sepeda. Banyak dari muridku yang mengingat hal itu dan itu kenangan manis. Beberapa bahkan mengatakan mereka iri, bahwa mereka tidak sedekat itu dengan ibunya. Mereka tidak semesra itu dengan ibunya. Aku dulu hanya tertawa saja. Tapi kini, itu adalah hal yang kurindukan. 


Dimasakin mamah. Aku bisa masak sebatas untuk diriku sendiri, dalam pembagian tugas harian pun, memasak adalah tugasnya mamah, bukan aku. Kecuali di dua bulan terakhir hidupnya, aku memasak full untuk mamah. Karena mamah tidak bisa makan sembarangan. Aku benci jika pagi-pagi tiba-tiba rindu dan ingin dimasakan oleh mamah. Atau sesederhana tinggal makan, Aku rindu, Mah. 


Perdebatan dan pembicaraan konyol kami, tentang selebritis, acara TV, politik atau apapun. Kami kerap mengomel bersama atau memperdebatkan hal yang sama berkali-kali. Tapi kami tidak pernah bosan dan tetap mengulangi perdebatan tersebut.


Kangen nonton barengn mamah. Mamah tipe orang yang berpikiran terbuka dan bisa menerima hal-hal dan pemikiran baru. Mamah mau aja aku ajak nonton film atau drakor sehingga mamah lebih aware sama situasi dan perkembangan saat ini. Walaupun mamah kerap kesulitan mengingat nama actor yang bermain. Keanu Reeves kami sebut Mang Nunu, Ji Chang Wook kami sebut Healer, Lee Min Ho kita sebut  City Hunter, Bruce William kita sebut Hese paeh, what a syalalala memang sama mamah tuuh. 


Aku kangen dibangunin mamah, bukan dibangunin alaram. Walau mamah sering kesal karena aku susah dibangunkan. Tapi aku kangen diomelin pagi-pagi sama mamah. Aku kangen kami membahas kejadian sehari-hari. Bagaimana aku di sekolah, apa yang mamah tonton, ada kejadian apa di rumah, bagaimana tingkah kucing-kucing kami. Aku kangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen. Kangen. Kangen. Kangen. Kangen sekali. 

Ada banyak lagi hal-hal yang kurindukan tentang mamah. Tak pernah jauh dari mamah membuat kami adalah pusat hidup satu sama lain. Tapi tak bisa kupungkiri, banyak sekali pelajaran yang sudah mamah berikan dan tanamkan pada aku yang bebal dan keras kepala ini. Bekal untukku kini hidup tanpanya. Bekal untuk insya Alloh ke depannya membuat dunia tahu, sebaik apa mamahku. Seberapa kuat mamahku.


Sekali lagi, terima kasih sudah mau membaca coretanku tentang mamah, minggu depan, insya Alloh aku ingin ercerita tentang betapa kuatnya mamahku. Betapa dia adalah wanita tangguh yang sesungguhnya. I love you, mom! I miss you, really really really really miss you, so badly

Al Fatihah nya buat mamah 🙏
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ 
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ 
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Senin, 14 Februari 2022

Perjalanan Ini

Halo semuanya, semoga selalu dalam keadaan sehat dan dimudahkan segala hal yang sedang dihadapinya. Situasi sekeliling saya sedang banyak yang sakit baik itu batuk, pilek maupun demam. Beberapa teman di luar kota juga dinyatakan "+". Semoga semua segera sembuh dan pulih seperti sediakala. Aamiin aamiin aamiin ya robbal alamin.

Seperti biasa, saya menulis kembali pengalaman dan perjalanan saya dalam mengatasi kehilangan mama. Minggu ini, alhamdulillah saya lalui dengan aman. Tidak ada drama tangis, sedih dan sakit badan karena naik turun perasan. Alhamdulillah. Ada beberapa momen, meneteskan air mata kerinduan saat sendiri maupun selepas sholat dan berdoa. Tapi rasanya kali ini berbeda. Ada kesunyian yang syahdu dalam menerima perasaan ini. Ada rasa tenang yang sepi dalam menghadapinya. Semoga perasaan ini tetap bertahan dan membuat saya semakin kuat.

Saya merasa banyak upaya yang saya lakukan untuk menghadapi semua ini. Saya suka minta ditemani murid, main bersama mereka, memadatkan aktivitas hingga malam, menambah aktivitas seperti menulis tiap minggu di blog, merutinkan olahraga pagi dan yoga, tetap bekerja selayaknya biasa. Kebiasaan membaca saya sudah mulai menemukan ritmenya lagi, bulan lalu saya berhasil menyelesaikan empat buku beserta ulasannya di instagram. Sebagian tentu tahu saya bisa membaca sampai dua puluh buku dalam kondisi normal. Ada pula beberapa hal yang masuk dalam daftar rencana saya tapi belum juga saya lakukan seperti membuat podcast tiap minggu, skin care an rutin dan menulis artikel. semoga ke depannya tidak hanya wacana dan bisa menjadi jalan memeroleh sampingan selain gaji. Doakan ya!

Ada banya orang dan situasi yang membuat saya sampai di titik ini. Sekalipun kadang masih ada ruang hampa dan kebimbangan dalam menjalani semuanya, saya merasa situasi beranjak pulih dan saya harus mulai menatap dan menapaki jalan hidup ke depannya. Bismillahirahmanirrahim. Saya tidak ingin jumawa dngan mengatakan saya sudah pulih, saya bahkan tidak tahu definisi pulih itu seperti apa, tapi dua minggu ini, adalah dua minggu paling aman yang saya rasakan sejak kepergian mama. 

Mengutip dari buku Finding Meaning : Mencari Makna di Balik Dukacita, sedianya kematian seseorang meninggalkan makna bagi orang-orang sekelilingnya dan yang mengetahui kematiannya. Saya pun berharap kepergian mamah kelak akan meninggalkan arti bagi banyak orang, saya memiliki mimpi mendirikan yayasan, panti asuhan, rumah belajar atau apalah agar semua orang tahu betapa baiknya beliau semasa hidupnya. agar kepergian beliau tidak menghentikan hidup saya tapi membuat saya bisa melakukan hal berguna atas nama beliau ke depannya. Semoga cita-cita ini tak hanya semoga tapi ada jalan, upaya dan kemudahan bagi saya untuk benar-benar mewujudkannya. 

Saya merasa harus menuliskan ini, agar kelak ke depannya, ketika saya merasa tak ada gunanya lagi saya hidup, saya masih punya cita-cita untuk mengharumkan nama mamah. Semoga Alloh meridhoi dan membuka jalan yang selebar-lebarnya untuk cita-cita ini kelak.

Terima kasih untuk dukungan dan kesetiaannya mengunjungi  dan memberisemangat lewat blog ini. Sebuah ruang untuk saya mengungkapkan perasaan dan perjalanan saya menghadapi kepergian mamah. Sebuah jalan untuk menuju pulih, sebuah usaha untuk berbagi. Terimakasih, kalian semua baik dan berharga bagi saya. Terimakasih.

Seperi biasa, tidak bosan saya meminta kesediaan dan sedikit waktunya untuk membacakan al fatihah untuk mamah saya tersayang.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ 
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ 
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Pengalaman Konsultasi Online dengan Psikolog (Part 2)

Selepas pengalaman yang kurang nyaman kala pertama kali konsultasi dengan psikolog, tidak lantas membuat saya kapok. Berkaca dari pengalaman...